Site MyBlooooogger N@ipos'S

Terima kasih dah mampir di Blog saya semoga bisa membantu dan memberikan Inspirasi kepada para pengunjung.......... Thx

Friday, June 1, 2007 | 0 Comments

Juli di Bulan Juni

Kekurangan dalam diri seseorang memang bukan untuk diolok-olok. Begitulah yang ingin disampaikan dalam sebuah film yang saya tonton tadi malam. Karena setiap manusia —dibalik kekurangannya— ada juga kelebihan yang kadang tidak kita punyai. Seperti yang dialami oleh Juli(a) [diperankan oleh Sisi Priscilla?], ia seorang pengidap diseleksia —sehingga tidak mampu membedakan huruf ketika dirangkai. Karena penyakitnya itulah, ia jadi minder, bahkan mengoblok-goblokkan dirinya sendiri. Ia merasa sangat tolol, karena nyaris tidak bisa membaca. Tapi di balik kekurangannya itu, akhirnya ia mampu melawan “cap diri” tidak bisa apa-apa, sehingga menjadi seorang fotografer yang dikagumi —karena jepretan kameranya sangat humanis.

Sebenarnya saya sudah “ketinggalan” menonton, sehingga saya tidak bisa bercerita tentang kisah ini. Dilihat dari produksi Indonesia, ia sudah cukup menarik, terlebih cerita yang disodorkan tidak itu-itu saja. Tema yang diangkat cukup simpel memang, jalinan kisah kasih remaja seperti umumnya, gadis yang mempunyai penyakit; diseleksia.

Ada “sisi kaku” di saat Tora Sudiro —memerankan pemandu kuis. [bukan Tora-nya yang kaku, tetapi pengambilan gambar yang tidak sip, sehingga mirip-mirip senetron konvensional]

Juli merupakan seorang anak tukang bengkel. Ia mempunyai kenangan buruk saat bulan Juni. Secara berturut-turut keburukan selalu menimpanya di saat bulan itu, sehingga muncul sebuah “keyakinan” bahwa bulan ini merupakan “bulan sial” bagi kehidupannya. Di ceritakan sang ayah, ibunya konon meninggal pada bulan ini juga. Pun dalam perjalanannya, bulan Juni merupakan bulan “gelap” baginya.

Rasa ketakutan pada bulan Juni, kerap membuatnya sering bertanya tanya soal tanggal. “Tanggal berapa sekarang?” tanyanya pada Tora suatu kali. [saya tidak tahu, Tora Surido memerankan sebagai siapa pada senetron ini]
“Bulan Mei,” jawab Tora keheranan, karena ia sudah beberapa kali menanyakan hal yang sama. Tapi ia maklumi itu, Tora sudah mengetahi penyakit yang diderita Juli. Hanya saja, diseleksia seharusnya mampu mengingat tentang hari dan bulan.

Ada jalinan cinta yang dibuat rumit. Seperti keterlambatan Tora bahwa dia sudah bertunangan, sehingga membuat Juli kecewa. Dan “pilihan” yang disodorkan orang yang mencintainya terasa terlambat, yang akhirnya ia malah pergi karena tidak tahan akan pengorbanan yang terus menerus [kalau disini cinta diartikan pengorobanan?]

Akhir cerita seakan berjalan begitu cepat. Juli akhirnya sadar, bahwa ia mampu mendedikasikan sebuah karya yang penting; potret Aceh yang terkena musibah. Album foto itu ia persembahkan untuk sang ayah —yang telah cukup mendidiknya sehingga tidak ada yang kurang, meski ia menderita penyakit. Ia bangkit, dan melupakan sisi gelap yang ia miliki. Dalam presentasi foto-fotonya itu, ia juga sadar bahwa musibah tidak disebabkan karena ia bulan tertentu. Juli sanggup melewati bulan Juni tanpa musibah.

posted by SoPiAn @ 5:22 PM